RUMUS BAD DAY (Matematika-filsafat : Sebuah pengantar)

By natrigus

Semua orang pasti pernah mengalami ‘bad day’.
Iya kan? Iya dong? Bener kan? Bener dooong..? *aduh, saya lagi sering-seringnya nonton OB nih hihihihi..*

Begitu juga saya. Kalau lagi merasa mengalami hari buruk, bawaannya pengen garuk-garuk kepala terus. Oh.. salah, itu namanya hari rambut buruk alias lupa keramas..

Rumus bad day? Emang ada gitu? Ada dong. Mari saya tunjukkan kepada anda apa yang saya sebut sebagai matematika-filsafat.

Menurut hitungan saya,

BAD DAY + BAD MOOD = BAD ATTITUDE

Bener nggak sih? Bener lagi.
Nah, kalo masih kurang kerjaan, maka ada baiknya kita menguraikan rumus di atas agar persamaan matematikanya menjadi lebih jelas.

Jadi, kalau

BAD DAY + BAD MOOD = BAD ATTITUDE

Maka

BAD DAY = BAD ATTITUDE – BAD MOOD

Dan

BAD MOOD = BAD ATTITUDE – BAD DAY

Contoh penerapan rumus ini di dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:

Pertama, kita harus merasa yakin bahwa kita sedang mengalami bad day. Mengapa demikian? Karena jika kita tidak yakin dengan apa yang sedang kita alami, maka variabel ‘bad day’ dalam perhitungan kita nilainya tidak akan mutlak atau menjadi semu.

Kemudian, kita mengaitkan variabel tersebut dengan variabel dari faktor yang sering muncul mengiringi variabel pertama, yaitu ‘bad mood’. Betul kan, kalo udah ngerasa lagi bad day bawaannya pengen marah-marah terus? Semua berasa jadi tambah nyebelin.

Kalau sudah bad day terus kita nurutin bad mood kita, yang muncul tak lain dan tak bukan adalah bad attitude. Misalnya banting-banting barang, ngomong jadi judes, tampang jadi jutek, dan lain-lain, dan lain-lain.

Sedangkan untuk persamaan yang kedua, penjabarannya seperti ini. Untuk orang-orang yang pasrah dan ‘eling’bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus – adakalanya berjalan tidak sesuai dengan harapan – maka mengalami satu hari yang buruk sudah dirasa cukup.

Cukup apa? Cukup berat, cukup menyebalkan tapi mau bagaimana lagi mungkin sayanya aja yang sedang sial, dan cukup hari ini saja..

Dengan pengertian seperti itu, maka tidak usah diperparah lagi dengan melibatkan variabel emosi di dalamnya. Sehingga hasil akhir dari persamaan pertama yang berupa ‘kelakuan tengil yang menjadi-jadi’ tidak perlu ditunjukkan kepada orang lain.

Kemudian untuk persamaan yang ketiga, menunjukkan bahwa bad mood bisa saja muncul dan menghasilkan bad attitude tanpa harus mengalami bad day terlebih dahulu. Simpelnya, kalo udah bawaan lahirnya jutek mah, ngga perlu lagi bad day juga emang tiap hari kerjaannya marah-marah melulu..

Itulah salah satu contoh dari apa yang saya sebut dengan matematika-filsafat. Mengapa matematika-filsafat? Mengapa bukan filsafat-matematika? Perbedaan keduanya akan saya jelaskan pada postingan berikutnya.

Note:
Postingan kali ini dimaksudkan sebagai salah satu sarana untuk menyeimbangkan volume otak kanan dan otak kiri saja. Tidak ada maksud untuk sok tahu, sok ngerti dan belagu karena telah mencampuradukkan istilah-istilah dalam matematika dan metode pemikiran filsafat. Peace yo!

Nah, have a nice day people :D

Leave a Reply